Home > Berita > Info SAK
Berita
 

Revisi PSAK 28: Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian dan PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa
02-01-2013 14:34

Revisi PSAK 28: Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian dan PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa

Pada 11 Desember 2012 DSAK IAI mengesahkan revisi PSAK 28: Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian dan PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa yang berlaku efektif sejak tanggal pengesahan. Ketentuan transisi diberikan terkait dengan revisi pengaturan liabilitas manfaat polis masa depan.

Beberapa perubahan signfikan pengaturan dalam PSAK 28 adalah sebagai berikut:

-

Liabilitas manfaat polis masa depan. Mengacu pada perubahan dalam PSAK 36 di bawah ini (paragraf 19).

-

Tes kecukupan liabilitas. Adanya tambahan penjelasan mengenai tingkat diskonto yang digunakan (paragraf 20).

-

Aset reasuransi. Adanya tambahan paragraf mengenai penentuan aset reasuransi (paragraf 21-23).

 

Sedangkan perubahan signifikan pengaturan dalam PSAK 36 adalah sebagai berikut:

-

Liabilitas manfaat polis masa depan. Adanya pengecualian bagi entitas dengan data yang tersedia tidak cukup memadai untuk menghitung berdasarkan metode yang disyaratkan (paragraf 12), perlakuan atas perubahan dari pengecualian tersebut ke metode yang disyaratkan (paragraf 13), dan hasil perhitungan negatif (paragraf 14-15).

-

Tes kecukupan liabilitas. Adanya tambahan penjelasan mengenai tingkat diskonto yang digunakan (paragraf 19).

-

Aset reasuransi. Adanya tambahan paragraf mengenai penentuan aset reasuransi (paragraf 20-22).

 

Revisi PSAK 28 dan PSAK 36 dilakukan tanpa melalui tahapan due process procedure, dan berdasarkan ketentuan Peraturan Organisasi IAI hal ini dimungkinkan dengan adanya persetujuan Dewan Pengurus Nasional IAI. Persetujuan tersebut diberikan pada 10 Desember 2012.

 

Manajemen Eksekutif IAI

 

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN 28

AKUNTANSI KONTRAK ASURANSI KERUGIAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 28: Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian terdiri dari paragraf 01–28. PSAK 28 dilengkapi dengan Dasar Kesimpulan yang bukan merupakan bagian dari PSAK 28. Seluruh paragraf dalam Pernyataan ini memiliki kekuatan mengatur yang sama. Paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring mengatur prinsip-prinsip utama. PSAK 28 harus dibaca dalam konteks tujuan pengaturan dan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan memberikan dasar pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi ketika tidak ada panduan secara eksplisit. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur-unsur yang tidak material.

PENDAHULUAN

01.

Tujuan Pernyataan ini adalah melengkapi pengaturan dalam PSAK 62: Kontrak Asuransi.

 

 

02.

Suatu kontrak yang masuk dalam ruang lingkup PSAK 62: Kontrak Asuransi sebagai kontrak asuransi, jika kontrak tersebut merupakan asuransi kerugian, maka entitas juga menerapkan Pernyataan ini.

 

Ruang Lingkup

03.

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk kontrak asuransi kerugian. Pengertian kontrak asuransi mengacu pada PSAK 62: Kontrak Asuransi.

 

Definisi

04.

Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:

Estimasi klaim adalah estimasi jumlah kewajiban yang menjadi tanggungan sehubungan dengan klaim yang masih dalam proses penyelesaian, termasuk klaim yang terjadi namun belum dilaporkan.

Klaim bruto adalah klaim yang jumlahnya telah disepakati, termasuk biaya penyelesaian klaim.

Klaim reasuransi adalah bagian klaim yang menjadi kewajiban reasuradur sehubungan dengan perjanjian reasuransi.

Kontrak asuransi jangka pendek adalah kontrak asuransi yang hanya memberikan proteksi tanpa ada komponen deposit untuk periode sama dengan atau kurang dari dua belas bulan dan memungkinkan asuradur untuk membatalkan kontrak atau menyesuaikan persyaratan kontrak pada akhir setiap periode kontrak, seperti penyesuaian jumlah premi atau penutupan yang diberikan.

Polis bersama adalah penutupan terhadap satu objek asuransi yang dilakukan secara bersama oleh beberapa entitas asuransi dan dinyatakan dalam satu polis.

Premi bruto adalah premi yang diperoleh dari penutupan langsung dan penutupan tidak langsung. Premi penutupan langsung termasuk premi yang diperoleh dari penutupan polis bersama.

Premi reasuransi adalah bagian premi bruto yang menjadi hak reasuradur berdasarkan perjanjian reasuransi.

Premi yang belum merupakan pendapatan adalah bagian dari premi yang belum diakui sebagai pendapatan karena masa pertanggungannya masih berjalan pada akhir periode akuntansi.

Reasuransi prospektif adalah ketentuan dalam kontrak reasuransi yang mewajibkan reasuradur untuk membayar kepada asuradur sejumlah kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari peristiwa masa depan yang dipertanggungkan.

Reasuransi retroaktif adalah ketentuan dalam kontrak reasuransi yang mewajibkan reasuradur untuk membayar kepada asuradur sejumlah kerugian yang sudah terjadi sebagai akibat dari peristiwa masa lalu yang dipertanggungkan.


PENDAPATAN 

Premi Kontrak Asuransi Jangka Pendek

05.

Premi yang diperoleh sehubungan dengan kontrak asuransi dan reasuransi jangka pendek diakui sebagai pendapatan selama periode polis (kontrak) berdasarkan proporsi jumlah proteksi yang diberikan. Dalam hal periode polis berbeda secara signifikan dengan periode risiko (misalnya pada penutupan jenis pertanggungan asuransi konstruksi), maka seluruh premi yang diperoleh tersebut diakui sebagai pendapatan selama periode risiko, kecuali sebagaimana diatur di paragraf 06.

 

 

06.

Jika jumlah premi masih dapat disesuaikan, misalnya premi ditentukan pada akhir kontrak atau premi disesuaikan pada akhir kontrak berdasarkan nilai pertanggungan, maka pendapatan premi diakui sebagai berikut:

 

(a)

jika jumlah premi dapat diestimasi secara layak, maka pendapatan premi diakui selama periode kontrak dan estimasi jumlah premi tersebut disesuaikan setiap periode untuk mencerminkan jumlah premi yang sebenarnya.

 

 

(b)

jika jumlah premi tidak dapat diestimasi secara layak, maka premi diperlakukan dengan menggunakan metode uang muka (deposit method) sampai jumlah premi dapat diestimasi secara layak.

 

 

07.

Premi dari polis bersama diakui sebesar bagian premi yang diterima oleh entitas.

 

 

08.

Ceding company dapat memperoleh ganti rugi atas klaim sehubungan dengan kontrak asuransi yang ditutupnya, dengan melakukan kontrak reasuransi dengan asuradur lain atau reasuradur. Selanjutnya, reasuradur dapat mengadakan kontrak reasuransi dengan reasuradur lain yang dikenal sebagai proses retrosesi. Perlakuan akuntansi terhadap transaksi reasuransi bergantung pada apakah suatu kontrak reasuransi tersebut merupakan reasuransi prospektif atau retroaktif.

 

 

09.

Jumlah premi dibayar atau bagian premi atas transaksi reasuransi prospektif diakui sebagai premi reasuransi selama sisa periode kontrak yang jumlahnya proporsional dengan proteksi yang diberikan. Jika bagian premi reasuransi masih dapat disesuaikan dan jumlahnya dapat diestimasi secara layak, maka jumlah premi reasuransi yang diakui selama sisa periode kontrak adalah sebesar estimasi premi yang akan dibayar tersebut.

 

 

10.

Pembayaran atau kewajiban atas transaksi reasuransi retroaktif diakui sebagai piutang reasuransi sebesar jumlah kewajiban yang dicatat sehubungan dengan kontrak reasuransi yang mendasari. Jika kewajiban yang dicatat melebihi jumlah yang dibayar, maka piutang reasuransi dinaikkan untuk mencerminkan perbedaan tersebut dan menimbulkan keuntungan ditangguhkan. Keuntungan ditangguhkan diamortisasi selama estimasi sisa periode penyelesaian.

 

 

11.

Jika pembayaran atau kewajiban atas transaksi reasuransi retroaktif melebihi jumlah kewajiban yang dicatat, maka ceding company menaikkan kewajiban yang bersangkutan atau mengurangi piutang reasuransi, atau keduanya, pada saat kontrak reasuransi dilakukan. Perbedaan tersebut diakui dalam laba rugi.

 

 

12.

Perubahan dalam estimasi jumlah kewajiban sehubungan dengan kontrak reasuransi yang mendasari diakui dalam laba rugi pada periode terjadinya perubahan. Piutang reasuransi mencerminkan perubahan yang berhubungan dengan jumlah klaim yang dapat diperoleh dari reasuradur dan keuntungannya ditangguhkan dan diamortisasi.

 

 

13.

Jika kontrak reasuransi mencakup baik reasuransi prospektif maupun reasuransi retroaktif, maka transaksi reasuransi tersebut dipertanggungjawabkan secara terpisah.

 

Premi Selain Kontrak Asuransi Jangka Pendek

14.

Ketentuan tentang pendapatan premi selain kontrak asuransi jangka pendek mengacu pada PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 06.

 

BEBAN

Beban Klaim

15.

Ketentuan tentang pendapatan premi selain kontrak asuransi jangka pendek mengacu pada PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 06.

 

 

16.

Jumlah klaim dalam proses penyelesaian, termasuk klaim yang terjadi namun belum dilaporkan, ditentukan berdasarkan estimasi liabilitas klaim tersebut. Perubahan dalam jumlah estimasi liabilitas klaim, sebagai akibat proses penelaahan lebih lanjut dan perbedaan antara jumlah estimasi klaim dengan klaim yang dibayarkan, diakui dalam laba rugi pada periode terjadinya perubahan.

 

LIABILITAS

17.

Jumlah estimasi liabilitas klaim diukur sebesar jumlah estimasi berdasarkan perhitungan teknis asuransi.

 

Premi yang Belum Merupakan Pendapatan

18.

Premi yang belum merupakan pendapatan dari kontrak asuransi jangka pendek ditentukan dengan cara sebagai berikut:

(a)

secara agregat tanpa memperhatikan tanggal penutupannya dan besarnya dihitung berdasarkan persentase tertentu dari jumlah premi untuk setiap jenis pertanggungan/asuransi; atau

 

 

(b)

secara individual dari setiap pertanggungan dan besarnya premi yang belum merupakan pendapatan ditetapkan secara proporsional dengan jumlah proteksi yang diberikan, selama periode kontrak atau periode risiko, konsisten dengan pengakuan pendapatan premi sebagaimana dijelaskan di paragraf 05–07.

 

Liabilitas Manfaat Polis Masa Depan

19.

Liabilitas manfaat polis masa depan atas kontrak asuransi selain kontrak asuransi jangka pendek mengacu ke PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 10–16.

 

Tes Kecukupan Liabilitas

20.

Liabilitas asuransi yang diakui, baik manfaat polis masa depan, premi yang belum merupakan pendapatan maupun estimasi liabilitas klaim, dilakukan tes kecukupan liabilitas sesuai dengan persyaratan yang diatur dalam PSAK 62: Kontrak Asuransi. Tingkat diskonto yang digunakan dalam tes kecukupan liabilitas tersebut merupakan estimasi terbaik tingkat diskonto yang mencerminkan kondisi terkini dan risiko yang melekat pada liabilitas tersebut.

 

Aset reasuransi

21.

Nilai aset reasuransi atas liabilitas manfaat polis masa depan ditentukan secara konsisten dengan pendekatan yang digunakan dalam menentukan liabilitas manfaat polis masa depan, berdasarkan syarat dan ketentuan dari kontrak reasuransi tersebut.

 

 

22.

Nilai aset reasuransi atas premi yang belum merupakan pendapatan ditentukan secara konsisten dengan pendekatan yang digunakan dalam menentukan premi yang belum merupakan pendapatan, berdasarkan syarat dan ketentuan dari kontrak reasuransi tersebut.

 

 

23.

Nilai aset reasuransi atas estimasi liabilitas klaim ditentukan secara konsisten dengan pendekatan yang digunakan dalam menentukan estimasi liabilitas klaim, berdasarkan syarat dan ketentuan dari kontrak reasuransi tersebut.

 

PENGUNGKAPAN

24.

Hal-hal berikut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

(a)

Kebijakan akuntansi mengenai:

(i)

pengakuan pendapatan premi dan penentuan premi yang belum merupakan pendapatan;

(ii)

transaksi reasuransi termasuk sifat, tujuan, dan dampak transaksi reasuransi tersebut terhadap operasi entitas;

(iii)

pengakuan beban klaim dan penentuan estimasi klaim;

 

 

(b)

Piutang premi dari penutupan polis bersama yang pada saat bersamaan menimbulkan utang premi kepada entitas anggota penutupan polis bersama.

(c)

Jumlah premi jangka panjang yang belum diperhitungkan sebagai premi bruto.

 

KETENTUAN TRANSISI

25.

Jika sebelum tanggal efektif Pernyataan ini entitas telah menentukan liabilitas manfaat polis masa depan sebagaimana yang diatur dalam PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 10, maka entitas tidak dapat mengubah kebijakan akuntansinya.

 

 

26.

Entitas yang memenuhi syarat pengecualian yang diatur dalam PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 12 dapat menerapkan pengecualian tersebut sejak 1 Januari 2012.

 

TANGGAL EFEKTIF

27.

Pernyataan ini berlaku efektif sejak disahkan.

 

PENARIKAN

28.

Pernyataan ini menggantikan PSAK 28 (2011): Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian.

Dasar kesimpulan berikut melengkapi, tetapi bukan bagian dari, PSAK 28.

Dasar kesimpulan PSAK 28 mengacu pada dasar kesimpulan PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa.

 

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN 36

AKUNTANSI KONTRAK ASURANSI JIWA 

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa terdiri dari paragraf 01–27. PSAK 36 dilengkapi dengan Dasar Kesimpulan yang bukan merupakan bagian dari PSAK 36. Seluruh paragraf dalam Pernyataan ini memiliki kekuatan mengatur yang sama. Paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring mengatur prinsip-prinsip utama. PSAK 36 harus dibaca dalam konteks tujuan pengaturan dan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan memberikan dasar pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi ketika tidak ada panduan secara eksplisit. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur-unsur yang tidak material.

 

PENDAHULUAN

 

Tujuan

01.

Tujuan Pernyataan ini adalah melengkapi pengaturan dalam PSAK 62: Kontrak Asuransi.

 

 

02.

Suatu kontrak yang masuk dalam ruang lingkup PSAK 62: Kontrak Asuransi sebagai kontrak asuransi, jika kontrak tersebut merupakan kontrak asuransi jiwa, maka entitas juga menerapkan Pernyataan ini.

 

Ruang Lingkup

03.

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk kontrak asuransi jiwa. Pengertian kontrak asuransi mengacu pada PSAK 62: Kontrak Asuransi.

 

Definisi

04.

Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:

 

Estimasi liabilitas klaim adalah klaim yang belum diputuskan baik jumlahnya dan/atau haknya, termasuk klaim yang terjadi namun belum dilaporkan.

Klaim dan manfaat asuransi adalah beban yang terdiri atas: klaim dan manfaat asuransi yang pembayarannya didasarkan pada terjadinya peristiwa yang diasuransikan, yaitu klaim kematian, klaim cacat, dan klaim jaminan kesehatan; klaim dan manfaat karena jatuh tempo; serta klaim dan manfaat karena pembatalan.

Klaim reasuransi adalah bagian klaim yang menjadi kewajiban reasuradur sehubungan dengan perjanjian reasuransi.

Kontrak asuransi jangka pendek adalah kontrak asuransi yang hanya memberikan proteksi tanpa ada komponen deposit untuk periode sama dengan atau kurang dari dua belasbulan dan memungkinkan asuradur untuk membatalkan kontrak atau menyesuaikan persyaratan kontrak pada akhir setiap periode kontrak, seperti penyesuaian jumlah premi atau penutupan yang diberikan.

Premi bruto adalah premi yang diperoleh dari pemegang polis.

Premi reasuransi adalah bagian premi bruto yang menjadi hak reasuradur berdasarkan perjanjian reasuransi. 

Premi yang belum merupakan pendapatan adalah bagian dari premi yang belum diakui sebagai pendapatan karena masa pertanggungannya masih berjalan pada akhir periode akuntansi.

 

PENDAPATAN

Premi Kontrak Asuransi Jangka Pendek

05.

Premi kontrak asuransi jangka pendek diakui sebagai pendapatan dalam periode kontrak sesuai dengan proporsi jumlah proteksi asuransi yang diberikan. Jika periode risiko berbeda secara signifikan dengan periode kontrak, maka premi diakui sebagai pendapatan selama periode risiko sesuai dengan proporsi jumlah proteksi asuransi yang diberikan.

 

Premi Selain Kontrak Asuransi Jangka Pendek

06.

Premi selain kontrak asuransi jangka pendek diakui sebagai pendapatan pada saat jatuh tempo dari pemegang polis. Kewajiban untuk biaya yang diharapkan timbul sehubungan dengan kontrak tersebut diakui selama periode sekarang dan periode diperbaruinya kontrak.

 

Pendapatan Lain

07.

Komisi reasuransi dan komisi keuntungan reasuransi diakui sebagai pendapatan lain.

 

BEBAN

 

Beban Klaim

08.

Klaim meliputi klaim yang telah disetujui, klaim dalam proses penyelesaian, dan klaim yang terjadi namun belum dilaporkan.

 

 

09.

Jumlah klaim dalam proses penyelesaian, termasuk klaim yang terjadi namun belum dilaporkan, ditentukan berdasarkan estimasi liabilitas klaim tersebut. Perubahan dalam jumlah estimasi liabilitas klaim, sebagai akibat proses penelaahan lebih lanjut dan perbedaan antara jumlah estimasi klaim dengan klaim yang dibayarkan, diakui sebagai penambah atau pengurang beban dalam laba rugi pada periode terjadinya perubahan.

 

LIABILITAS

 

Liabilitas Manfaat Polis Masa Depan

10.

Liabilitas manfaat polis masa depan diakui dalam laporan posisi keuangan berdasarkan perhitungan aktuaria. Liabilitas tersebut mencerminkan nilai kini estimasi pembayaran seluruh manfaat yang diperjanjikan termasuk seluruh opsi yang disediakan, nilai kini estimasi seluruh biaya yang akan dikeluarkan, dan juga mempertimbangkan penerimaan premi di masa depan..

 

 

11.

Liabilitas tersebut diakui sejak timbulnya kewajiban sesuai yang diperjanjikan dalam kontrak asuransi jiwa.

 

 

12.

Jika data yang tersedia tidak cukup memadai untuk digunakan dalam menentukan liabilitas manfaat polis masa depan sesuai persyaratan di paragraf 10, maka entitas dapat menggunakan kebijakan akuntansi sebelumnya.

 

 

13.

Jika selanjutnya entitas yang memenuhi kondisi pengecualian di paragraf 12 menentukan liabilitas manfaat polis masa depan sesuai dengan persyaratan di paragraf 10, maka entitas memperlakukan hal tersebut sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai dengan PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.

 

 

14.

Perhitungan liabilitas manfaat polis masa depan sesuai dengan paragraf 10 dapat negatif pada tahun awal disebabkan nilai kini arus kas masuk lebih besar daripada arus kas keluar. Liabilitas manfaat polis masa depan negatif diperkenankan dalam level kontrak asuransi individual, tetapi tidak dapat negatif pada level portofolio kontrak asuransi yang bergantung pada risiko yang sama dan dikelola bersama sebagai portofolio tunggal.

 

 

15.

Dalam kondisi yang sangat jarang terjadi, misalnya entitas baru beroperasi, liabilitas manfaat polis masa depan negatif pada level portofolio sebagaimana dijelaskan di paragraf 14, maka liabilitas manfaat polis masa depan diakui sebesar nol.

 

 

16.

Untuk kontrak asuransi jiwa yang tidak memiliki komponen deposit dan masa kontrak sama dengan atau kurang dari dua belas bulan, liabilitas dapat dihitung menggunakan pendekatan premi yang belum merupakan pendapatan.

 

Premi yang Belum Merupakan Pendapatan

17.

Premi yang belum merupakan pendapatan atas kontrak asuransi jangka pendek ditentukan dengan cara sebagai berikut:

(a)

secara agregat tanpa memperhatikan tanggal penutupannya dan besarnya dihitung berdasarkan persentase tertentu dari jumlah premi untuk setiap jenis pertanggungan/asuransi; atau

(b)

secara individual dari setiap pertanggungan dan besarnya premi yang belum merupakan pendapatan ditetapkan secara proporsional dengan jumlah proteksi yang diberikan, selama periode pertanggungan atau periode risiko, konsisten dengan pengakuan pendapatan premi sebagaimana dijelaskan di paragraf 05.

 

Estimasi Liabilitas Klaim

18.

Estimasi liabilitas klaim atas kontrak asuransi diukur sebesar jumlah estimasi berdasarkan perhitungan teknis asuransi.

 

Tes Kecukupan Liabilitas

19.

Liabilitas asuransi yang diakui, baik manfaat polis masa depan, premi yang belum merupakan pendapatan maupun estimasi liabilitas klaim, dilakukan tes kecukupan liabilitas sesuai dengan persyaratan yang diatur dalam PSAK 62: Kontrak Asuransi. Tingkat diskonto yang digunakan dalam tes kecukupan liabilitas tersebut merupakan estimasi terbaik tingkat diskonto yang mencerminkan kondisi terkini dan risiko yang melekat pada liabilitas tersebut.

 

ASET REASURANSI

20.

Nilai aset reasuransi atas liabilitas manfaat polis masa depan ditentukan secara konsisten dengan pendekatan yang digunakan dalam menentukan liabilitas manfaat polis masa depan, berdasarkan syarat dan ketentuan dari kontrak reasuransi tersebut.

 

 

21.

Nilai aset reasuransi atas premi yang belum merupakan pendapatan ditentukan secara konsisten dengan pendekatan yang digunakan dalam menentukan premi yang belum merupakan pendapatan, berdasarkan syarat dan ketentuan dari kontrak reasuransi tersebut.

 

 

22.

Nilai aset reasuransi atas estimasi liabilitas klaim ditentukan secara konsisten dengan pendekatan yang digunakan dalam menentukan estimasi liabilitas klaim, berdasarkan syarat dan ketentuan dari kontrak reasuransi tersebut.

 

PENGUNGKAPAN

23.

Hal-hal berikut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

(a)

Kebijakan akuntansi mengenai:

(i)

pengakuan pendapatan premi dan penentuan liabilitas manfaat polis masa depan serta premi yang belum merupakan pendapatan;

(ii)

transaksi reasuransi termasuk sifat, tujuan, dan dampak transaksi reasuransi tersebut terhadap operasi entitas;

(iii)

pengakuan beban klaim dan penentuan estimasi klaim tanggungan sendiri;

(iv)

kebijakan akuntansi lain yang penting sebagaimana ditentukan dalam SAK yang relevan.

(b)

Pendapatan premi bruto: pendapatan premi tahun pertama dan premi tahun lanjutan secara terperinci berdasarkan kelompok perorangan dan kumpulan serta jenis asuransi.

(c)

Klaim dan manfaat: jenis, jumlah, dan penyebab kenaikan klaim dan manfaat yang signifikan.

 

KETENTUAN TRANSISI

24.

Jika sebelum tanggal efektif Pernyataan ini entitas telah menentukan liabilitas manfaat polis masa depan sebagaimana yang diatur di paragraf 10, maka entitas tidak dapat mengubah kebijakan akuntansinya.

 

 

25.

Entitas yang memenuhi syarat pengecualian yang diatur di paragraf 12 dapat menerapkan pengecualian tersebut sejak 1 Januari 2012.

 

TANGGAL EFEKTIF

26.

Pernyataan ini berlaku efektif sejak disahkan.

 

PENARIKAN

27.

Pernyataan ini menggantikan PSAK 36 (2011): Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa.

 

DASAR KESIMPULAN

Dasar kesimpulan berikut melengkapi, tetapi bukan bagian dari, PSAK 36.

LIABILITAS MANFAAT POLIS MASA DEPAN

DK01. Adopsi IFRS 4 Insurance Contract menjadi PSAK 62: Kontrak Asuransi dilengkapi dengan revisi atas PSAK 36 (1996): Akuntansi Asuransi Jiwa menjadi PSAK 36 (2011): Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa untuk asuransi jiwa, serta revisi atas PSAK 28 (1996): Akuntansi Asuransi Kerugian menjadi PSAK 28 (2011): Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian. Beberapa ketentuan dalam PSAK 36 (2011) mengambil sebagian prinsip dalam exposure draft IFRS 4 Insurance Contract tahap kedua (exposure draft tersebut sampai saat ini belum disahkan menjadi IFRS) terkait dengan metode penentuan liabilitas manfaat polis masa depan. Tujuannya untuk menjembatani dengan ketentuan IFRS yang akan berlaku untuk kontrak asuransi. Kondisi ini – ketentuan SAK saat ini untuk kontrak asuransi lebih maju dibandingkan dengan IFRS saat ini – memerlukan infrastruktur yang lebih baik dibandingkan dengan infrastruktur yang diperlukan seumpama ketentuan SAK saat ini setara dengan IFRS saat ini untuk kontrak asuransi.

DK02. Setelah penerapan PSAK 36 (2011): Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa pada 1 Januari 2012 ada masukan dari industri asuransi mengenai kendala dalam menentukan liabilitas manfaat polis masa depan. Kendala ini disebabkan data yang tersedia tidak cukup memadai untuk digunakan dalam perhitungan dengan pendekatan yang disyaratkan oleh PSAK 36 (2011), sehingga perhitungan liabilitas tersebut tidak dapat dilakukan oleh sebagian entitas.

DK03. DSAK IAI menegaskan kembali bahwa ketentuan PSAK 62: Kontrak Asuransi – ketentuan yang setara dengan IFRS 4 Insurance Contract – merupakan persyaratan minimum yang harus diterapkan pada kontrak asuransi.

DK04. Dengan mempertimbangkan kedua hal di atas, DSAK IAI memutuskan untuk mengecualikan penerapan ketentuan dalam PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 10 jika data yang tersedia tidak cukup memadai untuk digunakan dalam menentukan liabilitas manfaat polis masa depan yang diatur dalam paragraf 10 tersebut.

TES KECUKUPAN LIABILITAS

DK05. Liabilitas asuransi – liabilitas manfaat polis masa depan, premi yang belum merupakan pendapatan, dan estimasi liabilitas klaim – yang sudah diakui harus dilakukan tes kecukupan dengan mengacu pada PSAK 62: Kontrak Asuransi. Ketika melakukan tes kecukupan liabilitas dengan mengacu pada PSAK 62 paragraf 17, maka tingkat diskonto yang digunakan merupakan tingkat diskonto sebelum pajak yang mencerminkan penilaian pasar atas nilai waktu dari uang dan risiko yang terkait dengan liabilitas yang bersangkutan, sebagaimana yang diatur dalam PSAK 57: Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi.

DK06. Dalam penerapan PSAK 57: Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi terdapat dua praktik berbeda mengenai tingkat diskonto di atas, yaitu suku bunga bebas risiko (risk-free interest rate) dan suku bunga bebas risiko ditambah risiko kredit yang melekat pada masing-masing entitas (risk-free rate plus own credit risk). Isu tingkat diskonto ini pernah dibahas oleh IFRIC Committe yang menyatakan ‘The Committee noted that IAS 37 does not explicitly state whether or not own credit risk should be included. The Committee understood that the predominant practice today is to exclude own credit risk, which is generally viewed in practice as a risk of the entity rather than a risk specific to the liability’ (IFRIC Update, March 2011).

 

DK07. Dengan pertimbangan tersebut, DSAK IAI memutuskan tingkat diskonto yang digunakan dalam melakukan tes kecukupan liabilitas merupakan estimasi terbaik tingkat diskonto yang mencerminkan kondisi terkini dan risiko yang melekat pada liabilitas tersebut.      

KETENTUAN TRANSISI

DK08. Entitas yang sudah menerapkan ketentuan PSAK 36 (2011): Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 10 tidak dapat mengubah kebijakan akuntansinya walaupun memenuhi kondisi pengecualian yang diatur dalam PSAK 36 (2012): Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 12. Hal ini didasari oleh ketentuan dalam PSAK 62: Kontrak Asuransi paragraf 21 yang menyatakan bahwa ‘Asuradur dapat mengubah kebijakan akuntansi untuk kontrak asuransi jika, dan hanya jika, perubahan tersebut membuat laporan keuangan lebih relevan untuk kebutuhan pengguna laporan keuangan dalam membuat keputusan ekonomik dan tidak mengurangi keandalan, atau lebih andal dan tidak mengurangi relevansi untuk kebutuhan tersebut. Asuradur menilai relevansi dan keandalan sesuai kriteria dalam PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan’.

DK09. Entitas yang memenuhi kondisi pengecualian yang diatur di paragraf 12 dapat menggunakan kebijakan akuntansi sebelumnya yang diatur di PSAK 36 (1996): Akuntansi Asuransi Kerugian sejak 1 Januari 2012. Relaksasi ini diberikan dengan mempertimbangkan bahwa ketentuan dalam PSAK 62: Kontrak Asuransi (adopsi IFRS 4 Insurance Contract) merupakan persyaratan minimum yang harus diterapkan seperti yang dijelaskan di DK01–DK04 dan agar tidak ada dua ketentuan berbeda dalam SAK yang diterapkan pada periode pelaporan keuangan yang sama.

 

 



kirim berita

Berita yang lain




WebLink